Articles by "SYIAH"
Showing posts with label SYIAH. Show all posts
Oleh : Agus Hasan Bashori
Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol
Mendekati bulan suci Ramadhan umat Islam bersuka cita, mengingat pahala dan manfaat puasa yang begitu besar. Para ulama Ahlussunnah sibuk mengajarkan fiqih Ramadhan agar tujuan madrasah Ramadhan yaitu meraih gelar takwa dapat diraih.
Lain halnya dengan Syiah yang memang secara akidah sudah rusak,  maka  banyak dari mereka tidak mengajarkan dengan benar. Salah satunya adalah seorang ulama Syiah dan video berikut ini.
Ulama Syiah ini mengajarkan beberapa kesesatan:
  1. Menyebut puasa Ramadhan sebagai problem
  2. Mengajak orang untuk tidak puasa Ramadhan selama sebulan, dengan cara, setiap hari keluar 25 km dengan niat ingin lari dari puasa.
Simak ucapannya:
“Aku jelaskan kepada kamu, bagaimana cara melarikan diri dari problem puasa di bulan Ramadhan. Ada beberapa cara, salah satunya adalah safar. Seseorang musafir, saya musafir di bulan Ramadhan supaya saya tidak puasa. Setiap hari aku pergi sejauh 25 km, aku makan kemudian kembali ke rumah. Setiap hari saya menempuh jarak tersebut – baguskan- supaya aku tidak puasa . ini boleh-boleh saja. Lari dari puasa Ramadhan, walau safarnya dengan tujuan lari dari puasa maka tidak masalah. Ini yang dinyatakan oleh para ahli fiqih.”
Video :
Sumber : gensyiah.com – 20 May 2016
(nahimunkar.com)


IJABI Sulawesi Selatan bekerjasama dengan IJABI Jawa Barat membagi-bagikan buletin dakwah (baca: dakwah pemecahabelahan umat) Al-Tanwir pada acara asyura Syiah 1431 H di Makassar. Makalah pertama dalam bulletin tersebut adalah tulisan ‘KH’. Jalaluddin Rakhmat yang berjudul “Bersama Al-Husein: Hidupkan Kembali Sunnah Nabawiyah (Sebuah Pengantar Asyura)”
Mengapa Imam Husein bertekad menemui kesyahidannya? Apa yang melatarbelakangi beliau untuk tetap berangkat? Itu yang menjadi pertanyaan banyak orang. Dan sekarang saya akan menjelaskan mengapa. Latar belakang ini cukup panjang sebenarnya. Banyak hadis yang membicarakannya, tetapi di sini akan saya bacakan beberapa saja” tulis pak Jalal mengawali tulisannya.
Di antara jawaban yang dikemukakan Jalaluddin Rakhmat adalah karena para sahabat yang baru saja ditinggal oleh Nabinya itu merubah-rubah agama dan kembali murtad. Kembali menjadi orang-orang jahiliyah. Dan kembali menjadi orang kafir.
Dia beralasan dengan beberapa hadis, “Di salam Shahih Bukhari dan juga dalam Shahih Muslim, Nabi bercerita tentang hari kiamat. ‘Nanti pada hari kiamat -kata Rasulullah- aku akan menunggu di telaga al-Kautsar, kemudian datanglah kepadaku serombongan orang yang mengenalku dan aku mengenal mereka. Begitu dekat tiba-tiba mereka ditarik lagi dan aku berteriak, ‘Ini Sahabatku. Ini sahabatku’, lalu dikatakan kepadaku: Kamu tidak tahu bahwa mereka sudah mengubah-ubah agama sepeninggalmu.’ Lalu Rasulullah Saw bersabda: ‘Semoga dijauhkan dari kasih sayang Allah buat orang-orang yang mengubah-ubah agama sepeninggalku’.” Tulis Jalaluddin Rakhmat.
“Masih dalam Shahih Bukhari diriwayatkan oleh beberapa sahabat lain, di antaranya ialah Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata: Ketika sahabat-sahabat itu digiring dijauhkan, Rasulullah bertanya, ‘Mau dibawa kemana ini sahabatku?’ ke neraka, jawabnya. Lalu dikatakan kepada Rasulullah Saw: Tidak henti-hentinya mereka itu murtad meninggalkan agama kamu setelah engkau meninggalkan mereka. Innahum lam yazaaluu murtaddiin ‘ala a’qabihim mundzu faraqtahum. Rasulullah sangat sedih, bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.” Jalaluddin Rakhmat melanjutkan.
Jalaluddin Rakhmat dalam makalah Asyura-nya tersebut sengaja mengutip hadis dan membiarkan maknanya secara zahir ditangkap oleh orang awam, yaitu murtadnya para sahabat. Dan begitulah memang yang diinginkannya. Dan bahkan menyimpulkannya dengan berkata, ‘Rasulullah sangat sedih, bahwa sahabatnya akan murtad sepeninggal dia.’ 

(Catatan: Buka gambar scan ini pada tab yang baru agar tampilannya lebih besar)
Tanggapan dan Jawaban


Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol
Jalaluddin Rakhmat memang berniat menggiring para pembaca menuju konklusi tersebut di atas tanpa menjelaskan makna hadis yang sebenarnya dan kemudian berkilah ‘Pekerjaan saya hanya mengutip dari kitab-kitab.’ Padahal hadis seperti ini haruslah disertai dengan penjelasan para ulama.
Maka untuk menjawab dan menjelaskan hadis Haudh yang derajat validitasnya shahih tersebut kami nukilkan penjelasan Syaikh Dr.  Utsman Al-Khumais dalam bukunya,“Membantah Argumentasi Syi’ah” hal 99-104 berikut ini,
Yang dimaksud dengan hadis haudh adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
“(Kelak) datang kepadaku orang-orang yang kukenal mereka dan mereka pun mengenalku. Tapi, mereka lantas disingkirkan dari telaga (yakni telaga nabi di hari kiamat). Sehingga, aku berkata, ‘Mereka itu sahabat-sahabatku.’ Lantas dijawab, ‘Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang mereka buat-buat sepeninggal dirimu’.” (Shahih Al-Bukhari, no. 474, 7049; dan shahih Muslim, no. 37)
Dalam jalur-jalur periwayatn lain, hadis ini memiliki tambahan, bahwa di akhir, Nabi bersabda, “Maka aku pun berkata, ‘Sungguh celaka mereka. Sungguh celaka mereka’.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7051; dan Shahih Muslim, no. 39)
Pertanyaannya, siapakah orang-orang yang disingkirkan dari telaga itu? Syiah Itsna Asyariyah mengatakan, bahwa mereka adalah para sahabat Nabi. Jikalau memang demikian, maka apa gunanya kita memuji-muji sahabat Nabi karena pada dasarnya mereka disingkirkan dari telaga, dan diteruskan dengan penilaian Nabi, “Sungguh celaka mereka.”
Oleh karena itu, seraya memohon pertolongan kepada Allah, kami perlu menjelaskan secara gamblang hal ini. Pertama, bahwa sahabat-sahabat yang dimaksud dalam hadis di atas adalah orang-orang munafik yang ketika hidup di dunia menjadi sahabat Nabi. Di hadapan Nabi, mereka menampakkan keislaman, tetapi di dalam hati mereka menyembunyikan kekafiran. Ini sejalan dengan firman Allah, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami mengakui bahwa sesungguhnya -benarkamu benar-benar Rasul Allah.’ Dan Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah pun menyaksikan bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.” (Al-Munafiqun (63): 1)
Bisa saja seorang mempertanyakan, bukankah dahulu Nabi telah mengetahui siapa saja yang munafik, sehingga semestinya di hari kiamat beliau tidak perlu terkejut seperti itu? kami jawab, memang benar, tetapi beliau hanya mengetahui sebagian mereka, tidak semuanya. Oleh sebab itu Allah berfirman kepada Nabi-Nya, “Dan di antara orang-orang Arab Badui yang di sekelilingmu itu, ada orang-orang munafik. Dan di antara penduduk Madinah (juga ada orang-orang munafik). Mereka keterlaluan dalam kemunafikannya.Kamu tidak mengetahui mereka, tetapi kami mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami siksa dua kali, kemduian mereka akan dikembalikan kepada azab yang besar.” (At-taubah (9): 101)
Allah menjelaskan, bahwa Nabi tidak mengetahui semua orang munafik, sehingga beliau mengira mereka termasuk sahabatnya padahal sebenarnya bukan, karena mereka adalah kaum munafik.
Kedua, yang dimaksud dengan sahabat-sahabat dalam hadis ini adalah orang-orang yang murtad setelah Rasulullah wafat. Diketahui, setelah Nabi meninggal dunia, sebagian orang Arab murtad. Mereka murtad meninggalkan agama Allah sehingga Abu Bakar Ash-Shiddiq bersama para sahabat memerangi mereka. Pertempuran-pertempuran itu dikenal dengan sebutan perang Riddah (perang terhadap gelombang kemurtadan). Jadi, maksud orang-orang yang dinilai celaka oleh Nabi di atas adalah orang-orang yang murtad dari Islam sepeninggal beliau.
Baik tafsiran yang pertama maupun tafsiran yang kedua di atas, para sahabat Nabi tidak termasuk di dalamnya. Kenapa? Karena dalam mendefinisikan sahabat Nabi, kita berkata: “Setiap orang yang bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman pada beliau dan mati dalam keadaan tersebut (tetap beriman dan berislam)”. Sehingga, tafsiran pertama bahwa orang-orang yang disingkirkan dari telaga adalah orang-orang munafik, itu karena mereka tidak beriman secara lahir dan batin kepada Nabi, dan dengan demikian mereka tidak masuk dalam kategori sahabat Nabi. Untuk tafsiran yang kedua bahwa orang-orang itu adalah kaum murtadin, itu karena mereka mati tidak dalam keadaan Islam, dan dengan begitu mereka juga tidak masuk dalam kategori sahabat Nabi.
Adapun bila definisi yang mereka pakai terhadap sahabat Nabi adalah setiap orang yang melihat Nabi, maka konsekuensinya Abu Jahal juga termasuk sahabat Nabi. Demikian pula Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf, Ubay bin Khalaf, Walid bin Utbah dan orang-orang musyrik lainnya, mereka semua termasuk sahabat Nabi. Jelas definisi semacam ini tidak bisa kita terima selamanya.
Yang kita nyatakan sebagai sahabat Nabi adalah Abu Bakar, Umar, Ustman, Ali, Thalhah, Abu Ubaidah, Saad bin Abu Waqqash, Saad bin Muadz, Muadz bin Jabal, Ubay bin Kaab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Amr bin Ash, Fathimah, Aisyah, Hasan dan Husein serta masih banyak lagi lainnya. Mereka inilah para sahabat Nabi. Siapakah di antara mereka yang menjadi munafik? Dan siapakah di antara mereka yang murtad meninggalkan agama Allah? Tidak ada. bahkan sebaliknya, mereka semua beriman kepada Rasulullah, bertemu dengan beliau dan mati dalam keadaan yang tetap sama seperti itu. Inilah yang dapat kita saksikan dari berbagai fakta sejarah. Adapun tentang keadaan mereka yang sebenarnya, itu hanya Allah yang tahu.
Intinya, jawaban atas syubhat hadis haudh ini adalah: pertama, bahwa sabda Nabi “Sungguh celaka mereka” ditujukan pada orang-orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran, sedangkan Nabi tidak mengetahui jati diri mereka itu di dunia.
Atau kedua, mereka adalah orang-orang yang murtad sepeninggal Rasulullah. Ketika Nabi masih hidup mereka termasuk muslimin, tetapi setelah Nabi wafat mereka murtad dan meninggalkan Islam.
Ada jawaban ketiga, yakni setiap yang bersahabat (berteman) dengan Nabi tetapi tidak mengikuti beliau. Contohnya seperti Abdullah bin Ubay bin Salul, yang sebagaimana diketahui, dia adalah pemimpin kaum munafik. Ia pulalah yang berkata, “Sungguh jika kami kembali ke Madinah, niscaya orang yang terhormat akan mengusir orang yang hina.” Dan dia juga yang berkata, “Tiadalah perumpamaan kita dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya kecuali seperti perkataan orang-orang dulu, ‘Gemukkan anjingmu, ia pasti memakanmu’!” orang seperti ini disebut Nabi termasuk sahabat beliau. Jadi, menurut jawaban yang ketiga, inilah maksud sahabat dalam hadis tadi.
Maka di sini tampak bahwa definisi tentang sahabat yang telah kami sebutkan tadi, yaitu, “Setiap yang bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan beriman pada beliau dan mati dalam keadaan tersebut (tetap beriman dan berislam)” merupakan definisi yang dinyatakan oleh generasi belakangan. Adapun ucapan orang-orang Arab bahwa “Setiap orang yang menyertai seseorang berarti ia termasuk sahabatnya, tanpa memandang apakah dia muslim atau tidak, mengikuti jalan hidupnya atau tidak.” Maka ini konteksnya umum dan bukan dalam persoalan mendefinisikan sahabat Nabi. Karenanya, ketika Abdullah bin Ubay bin Salul mengeluarkan perkataan busuknya, “Niscaya orang yang terhormat akan mengusir orang yang hina”, Umar bin Khathab berdiri mendatangi Rasulullah lalu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkan saya memenggal leher orang munafik ini.” Maka Nabi bersabda, “Tidak wahai Umar, jangan sampai manusia mengatakan bahwa Muhammad membunuh sahabat-sahabatnya.” (Shahih Al-Bukhari, no. 4907; Shahih Muslim, no. 63). Nabi memang menyebutnya dengan kata sahabat, sekalipun ia dedengkot kaum Munafik. Namun, maksudnya tetap dia tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang secara istilah khusus dinamai sebagai sahabat Nabi.
Selain itu, bisa jadi maksud sahabat yang dinyatakan celaka dalam hadis haudh tadi juga adalah orang-orang yang mengikuti agama Nabi ini walaupun tidak bertemu langsung dengan beliau. Dan kemudian setelah itu, orang-orang itu mengalami kondisi kemunafikan ataupun kemurtadan. Jika begitu, maka kita juga termasuk dalam celaan di hadis ini jika kita mengalami kemunafikan dan kemurtadan. Karena itulah, maka sebagian riwayat hadis tadi dari jalur lain berbunyi, “Ummati, ummati (mereka itu umatku)” (Shahih Al-Bukhari, no. 7048) sebagai ganti bagi penyebutan sahabat. Dan kita ini, termasuk dalam umat beliau.
Mungkin ada yang masih belum bisa menerima, “Bagaimana mungkin maksudnya seperti itu, sementara dalam hadis tadi tersebutkan kata Nabi, ‘Aku mengetahui mereka dan mereka mengetahuiku’?” Maka kita jawab, bahwasanya Nabi telah menerangkan bahwa beliau mengenali umatnya melalui bekas-bekas wudhu.
Jika seandainya ada orang-orang nawashib –orang yang membenci keluarga Nabi yaitu Ali, Fathimah, Hasan, Husein dan lainnya- mengatakan, “Mereka itulah –maksudnya Ali dan lain-lain itu- yang murtad. Merekalah yang dihalau dari telaga. Mereka adalah Ali, Hasan dan Husein.” Bagaimana kita akan memberi jawaban pada mereka? kita bisa mengutarakan pada mereka, “Sahabat-sahabat yang disebut dalam hadis ini (dan bahkan dicela Nabi) bukanlah mereka yang kalian maksud itu. justru nama-nama yang kalian sebut itu, tentang mereka terdapat riwayat-riwayat yang menyebutkan keutamaan-keutamaan mereka.”

Kembali kepada Syiah, bukankah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Abu Ubaidah juga ada riwayat-riwayat yang menuturkan keutamaan mereka? lantas mengapakah Ali –oleh kaum Syiah- tidak dimasukkan dalam kategori sahabat yang dicela Nabi jika Abu Bakar dan Umar dimasukkan kesana? Jadi, inti kesimpulannya, hadis haudh tadi tidak berbicara mengenai sahabat-sahabat Nabi. (lppimakassar.com)

Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol


Beberapa paragraf di bawah ini mencoba menjelaskan kepada kita ‘adalah Ash-shahabah melalui analogi sederhana yang Insya Allah bisa dicerna oleh akal yang terbuka serta hati yang mengharap hidayah.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, imam para Nabi serta pemimpin para rasul, kedatangannya serta sahabatnya yang akan menolong serta berjuang dengan teguh bersamanya telah disebut-sebut bahkan dipuja-puji oleh Taurat dan Injil, dua kitab yang mengumpulkan wahyu Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Isa alaihimas salam. Tentu sebelum kedua kitab ini dirubah oleh tangan-tangan jahil.
Kelahirannya bagai secercah cahaya yang terus membesar dan menerangi ufuk bumi yang telah gelap oleh kemaksiatan dan kezaliman yang merata. Dunia pun menampilkan tanda-tanda bahagia tatkala sang calon Nabi itu lahir.
Nabi itu akan membawa sebuah risalah yang agung, dan diyakini akan mengubah wajah dunia yang muram itu yang akan mendidik dan melahirkan orang-orang besar. Orang agung hanya akan lahir dari rahim manusia yang berjiwa agung pula. Begitu sang bijak bestari mengungkapkan.
Dari Makkah setelah 14 abad lebih kita menuju ke Bandung, Indonesia. Di sana ada janin yang akan segera keluar dari rahim ibunya  yang kemudian diberi nama Jalaluddin oleh bapaknya yang bernama H. Rakhmat. Jadilah nama lengkapnya Jalaluddin Rakhmat.
Kitab-kitab berbahasa sansekerta dan melayu di Indonesia tentu tak pernah meramal kedatangan ‘orang besar’ tersebut bersama manusia-manusia yang akan mengikutinya sebagaimana yang terjadi pada Taurat dan Injil kepada sang Nabi besar beserta manusia-manusia yang menyertai perjuangannya. Pun, ketika janin itu berhasil keluar menjadi bayi mungil dunia tidak menampakkan tanda-tanda ‘keajaiban’ sebagaimana yang terjadi pada diri sang Nabi.
Kembali menatap jejak dakwah sang Nabi di Makkah, beliau berdakwah mengajak kepada Islam dan Iman. Pada awalnya ia ditentang dan ditolak serta diusir dari kampungnya. Dan begitulah dakwah para nabi. Namun setelah hijrah ke Madinah. Nabi baru ini tumbuh menjadi sebuah kekuatan yang diperhitungkan oleh Jazirah Arab dan dunia. Mempunyai pasukan tangguh bernama Ash-shahabah. Bersama mereka sang nabi memenangkan perang-perang penting dalam melawan kaum kafir seperti pertempuran Badar, Ahzab, dan Khaibar. Bersama mereka sang Nabi membuka Makkah. Jantung arab. Dan bersama mereka pula sang Nabi menaklukkan Hunain dan Tabuk. Menggentarkan Romawi. Namun ketika sang Nabi agung yang bernama Muhammad itu wafat, tentara tangguh Ash-shahabah itu ‘murtad’ begitu saja meninggalkannya. Begitu mudah berpaling ke belakang ajaran sang Nabi.
Jika kita befikir, apa gerangan jawaban dari langkah ‘murtad’ Ash-shahabah itu? beranikah kita menganggap bahwa sang Nabi telah gagal? Ataukah sang Nabi tidak becus mendidik tentar-tentara tangguh tersebut? Dan akhirnya kita sampai pada kesimpulan bahwa misi Nabi menyampaikan risalah kepada umat manusia tidak berhasil. Apakah beliau hanya mampu menyisakan Ali, Fathimah, Hasan, Husein serta segenap Ahlu Bait lainnya yang tidak murtad?
Adapun Jalaluddin Rakhmat yang kedatangannya tidak diramalkan sedikitpun oleh kitab-kitab wahyu. Pada tahun 1984 ia memulai dakwahnya tentang cinta dan akhlak. Sedikit demi sedikit jamaah mendekatinya dan mendengarkan dakwahnya. Ia juga –seperti sang Nabi- mendapat penolakan dari manusia-manusia yang hidup sezaman dengannya. Namun itu tak menyurutkan langkahnya. Dan pada akhir 2012 ia telah berhasil mengumpulkan ribuan jamaah dalam majlis asyura yang digelar di berbagai daerah. Semuanya berhasil dibuat menangis dalam acara duka itu sebagai bukti kuatnya didikan tokoh kita ini.
Apakah kita akan menyimpulkan bahwa sang Nabi maksum yang Allah sebagai penolongnya, Malaikat sebagai pengawalnya dan Islam yang dibawanya hanya berhasil mengokohkan Iman itu di hati Ali, Hasan, Husein dan Fathimah? Sangat sedikit. Dan kuantitas yang sangat memungkinkan untuk diremehkan.
Sedangkan Jalaluddin Rakhmat yang pasti tidak maksum, yang masih diragukan apakah Allah yang menolongnya ataukah iblis, apakah Malaikat yang mengawalnya ataukan setan.
Yang pasti ia lebih ‘berhasil’ daripada sang Nabi yang maksum itu. Selain berhasil mendakwahi keluarganya (ahlul bait dari Jalaluddin Rakhmat), Emilia Renita Az Istrinya, Miftah Fauzi Rakhmat anaknya, ia juga berhasil mengokohkan ‘keimanan’ itu kepada Syiah (pengikut) nya yang berada di Bandung, Makassar, Jakarta, dan lain-lain. Meskipun kita tidak tahu iman jenis apa yang ia tanamkan ini?, sehingga bisa lebih ‘berhasil’ dari sang Nabi.
Ta’zhim dan salam khusus kami buat yang ‘tercinta’, Jalaluddin Rakhmat, yang tampaknya mungkin telah jauh melebihi derajat dan kualitas dakwah Nabi yang maksum itu.
Rehat sejenak. Pikiran yang benar menunjukkan kebalikan dari analogi di atas. Bahwa sang Nabi yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk menyampaikan risalah yang akan menerangi seru sekalian alam tentu saja tidak seburuk itu hasilnya.
Jika Allah menakdirkan dari tangan Nabi terakhir inilah wajah dunia yang hitam akan berubah total menjadi terang tentunya Allah juga menyiapkan teman-teman yang berkepribadian kuat mengemban amanah risalah ini sepeninggal Nabi. Butuh kepada Rijaalpara pejuang yang tidak takut celaan orang yang suka mencela. Para pembela yang siap mati demi membela sang Nabi tercinta. Dan kita temukan sifat-sifat pejuang, tangguh dan gagah berani itu ada dalam pribadi para sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. mereka telah mandi keringat dan darah untuk memikul amanah penyebaran risalah ini.
Dari jiwa yang besar lahir pula orang-orang besar. Maka lahirlah dari rahim tarbiyah Rasulullah seorang lelaki yang bernama Abu Bakar, menghadapi bangsa arab yang murtad, manusia yang tidak mau bayar zakat, dan nabi-nabi palsu.
Lahirlah dari universitas Rasulullah seorang pemberani bernama Umar, penakluk dua imperium besar di masanya, Romawi Timur dan Persia Majusi.
Lahirlah dari madrasah Nabawi seorang pemuda tangguh bernama Ali, sang penakluk Khaibar, sarang Yahudi.
Lahirlah dari pendidikan sang Nabi itu Khalid bin Walid, pedang Allah yang terhunus.
Dan banyak lagi lelaki-lelaki tangguh yang lahir dari untaian pendidikan sang Nabi besar, Nabi akhir zaman, guru terbaik sepanjang masa, Imam para nabi  dan rasul. Yang mungkin jika kita bukukan perjuangan-perjuangan mereka membela agama ini, niscaya puluhan jilid kitab tak cukup menampung kisah indah itu.

Jika kita bandingkan dengan pemikiran Jalaluddin Rakhmat tentang murtadnya sebagian besar Ash-shahabah setelah Nabi wafat, mungkin kita akan sampai pada kesimpulan dari analogi (yang salah) di atas.
Semoga Allah menjaga kita dari pemikiran dan akidah yang melecehkan sang Nabi, shallallahu ‘alaihi wasallam.
(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol



Khomainy Namanya
Tokoh yang sudah akrab dan jelas bagi sebagian kita. Jelas akan kebenciannya, jelas akan permusuhannya, dan jelas tentang akidah yang dianutnya. Tak seorangpun dibiarkannya berada dalam kebingungan tentang sosok, keyakinan dan pemikirannya. Sebab semuanya telah dikumpulkannya dalam buku dan khutbah dengan penjelasan yang begitu gamblang.
Dalam lembaran-lembaran ini  kita akan mengenal siapa sebenarnya Khomainy. Mengenalnya langsung melalui sekelumit kenyataan yang menggambarkan  tentang sosoknya. Mengingat telah lama kebenaran tentangnya disembunyikan oleh para pengikutnya. Padahal Khomainy pun tak menginginkannya. Gambaran-gambaran menjemukan tentang sosok Khomainy telah lama mereka lukiskan dengan penghormatan yang berlebihan, bahkan sampai-sampai mereka beranggapan bahwa dialah satu-satunya pintu mengenal akidah Islam.
Mengenalnya Langsung
Alih-alih menjadikan perkataan para pengikut Khomainy sebagai acuan, lebih baik kita merujuk langsung ke Khomainy itu sendiri guna menyingkap hakikat  jati dirinya. Tidak diragukan lagi bahwasanya pada akhirnya tulisan ini akan jadi penuh sesak. Sebab telah kami tekadkan agar faktalah yang berbicara. Demikian tulisan ini dibuat.
Dua Puluh Lima Fakta Tentang Khomainy
Khomainy  berkata: “Kami tidak menyembah Tuhan yang membangun sebuah bangunan tinggi dari ketuhanan, keadilan dan agama lalu kemudian menghancurkannya dengan tangannya sendiri”.
“ Kami menyembah Tuhan yang kami tahu perbuatannya dibangun atas dasar logika dan bukan yang bertentangan dengan hal itu. Tidak ada Tuhan yang membangun sebuah bangunan tinggi dari ketuhanan, keadilan dan agama lalu kemudian menghancurkannya dengan tangannya sendiri . Tidak ada Tuhan yang mengamanahkan pemerintahan kepada Yazid, Muawiyah, Utsman dan yang semisalnya dari kalangan Muhajirin. Tidak ada Tuhan yang tidak menentukan sepeninggal  Nabi Muhammad hingga hari akhir zaman orang-orang yang diperlukan dalam pemerintahan, sehingga tidak ada celah membangun sebuah kezhaliman”.  [Kasyfu al-Asrar, 116-117]
Khomainy mengakui adanya perombakan dalam al-Quran.
“ Sesungguhnya hanya Yang Mulia Wali Allah Ali bin Abi Thalib sajalah yang sanggup mengemban al-Quran adapun selain beliau tidaklah sanggup kecuali jika manusia itu sanggup berpindah dari alam ghaib ke alam nyata, mengalami perubahan layaknya malaikat dan menguasai semua bahasa yang ada di dunia. Inilah salah satu makna dari perombakan yang terdapat dalam setiap kitab ketuhanan, al-Quran dan dalil-dalil lainnya. Setelah mendapati begitu banyak perombakan kucantumkan hal tersebut dalam kitab Mutanawilu al-Basyar berdasarkan kedudukan dan tingkatan ….? Dan Jumlah perombakan yang ada menyamai jumlah isi al-Quran. Sama persis. [Al-Quran Bab Ma’rifatillah, 50]
(Catatan: Khomeini mencoba berfilsafat dengan berpendapat adanya perombakkan. Akan tetapi apa manfaat dari hal tersebut? dalam hal ini ia tidak mungkin bisa ngeles sebab pendapatnya tentang perombakkan al-Quran sudah sangat jelas.)
Khomainy menyimpang dalam memahami ayat-ayat Allah dan menafsirkan firman Allah yang artinya { supaya kalian meyakini pertemuan dengan Rabb kalian } dan berkata: “Rabb kalian maksudnya adalah Imam”.
“ Allah berfirman yang artinya : { …supaya kalian meyakini pertemuan dengan Rabb kalian …}[ar-R’ad: 2],  yang dimaksud dengan Rabb kalian ialah imam. Maka lihatlah betapa penuh hikmahnya kalam Allah dan betapa sempurnanya ciptaan-Nya”. [Mashabih al-Hidayah Ila al-Khilafah wa al-Wilayah, 145].
(Catatan: lihatlah bagaimana penyimpangan Khomainy terhadap firman Allah dan  penyelewengan makna yang dilakukannya. Lihatlah sikap ghuluw dan syirik nampak begitu jelas dari perkataannya.)
Khomainy berkata:  sesungguhnya Nabi ShAllahu Alahi Wa Sallam tidak berhasil dalam dakwahnya.
“Perkara  hilangnya imam adalah perkara penting yang menjelaskan kepada kita bahwasannya tidak seorangpun dari anak Adam sanggup menunaikan sebuah tugas besar – yakni penerapan keadilan dalam makna yang sebenarnya di seluruh dunia- kecuali Imam Mahdi al-Muntazhar salamullah ‘alaih yang diutus Allah kepada manusia. Seluruh Nabi diutus hanyalah untuk menegakkan keadilan namun mereka tidak berhasil. Bahkan penutup Nabi yang datang untuk memperbaiki keadaan umat  juga belum berhasil menerapkannya. Dan sesungguhnya yang akan berhasil dalam menegakkan keadilan diseluruh dunia hanyalah al-Mahdi”. [Mukhtarat Min al-Ahadits Wa al-Khutabats li al-Imam al-Khomainy, 2/32]
(Catatan: apakah ada celaan kepada Nabi yang lebih keras dari celaan di atas? Apakah ada perkataan musuh Allah yang lebih buruk dari perkataan di atas?)
Khomainy menuduh bahwasanya Rasulullah takut menyampaikan risalah karena khawatir Quran akan dirubah.
“Tampak jelas dari dalil-dalil yang ada bahwasanya ada kegentaran dalam diri Nabi untuk menyampakan risalah imamah kepada umat. Setiap yang merujuk kepada sejarah pasti akan mengetahui bahwasanya kegentaran tersebut adalah sesuatu yang manusiawi, tetapi kemudian datanglah perintah Allah untuk menyampaikannya dan Allah menjamin keselamatan beliau.” [Kasyf al-Asrar, 150]
“ Sejak awal sudah kami tegaskan bahwasanya Nabi menahan diri dari mengarahkan langsung  dakwah beliau pada imamah karena khawatir akan terjadinya perubahan terhadap al-Quran sepeninggal beliau.” [Kasyfu al-Asrar, 149]
(Catatan: Dalam hal ini Khomainy menyampaikan seburuk-buruknya penghinaan. Tidak cukup baginya menyandangkan sifat gentar dan takut pada diri Rasul. Bahkan menciptakan baginya ‘udzur yang mungkin tidak akan terlintas dalam benak kaum muslimin bahkan munafiq sekalipun. Taruhlah misalnya kita menerima apa yang ia  katakan bahwasanya Nabi takut -Maha suci Allah yang menjauhkan dari beliau rasa takut dalam menaati perintah Allah- apakah khawatir al-Quran akan dirubah sepeninggalnya layak menjadi penyebabnya? Apakah Rasulullah lupa? – Maha Suci Allah yang menjauhkan beliau dari hal tersebut- Allah telah menjamin akan menjaga kitabnya. Atau apakah ia ragu? –Maha Suci Allah yang menjauhkannya dari hal tersebut- dengan kejujuran beliau. Tidak ada yang lebih diutamakan Khomainy selain berkhidmat pada madzhabnya. Untuk hal itu ia bahkan telah siap menohok Allah dan Rasul-Nya. Betapa beraninya ia memesan tempat di neraka.)
Khomainy menuduh Rasulullah telah gagal dalam berdakwah
“Dan jelas sekiranya Rasulullah telah menyampaikan perkara imamah sebagaimana mestinya tentunya Allah tidak akan memerintahkannya lagi untuk hal tersebut dan tidak perlu mengerahkan upaya dalam menunaikan perkara ini. Juga tidak akan tumbuh perbedaaan, pertengkaran dan peperangan di negri- negri Islam. Serta tidak akan muncul perselisihan dalam hal ushul dan furu’ dalam agama ini”. [Kasyfu al-Asrar, 155]
“ sesungguhnya seluruh Nabi telah diutus untuk meletakkan kaidah-kaidah keadilan di muka bumi akan tetapi mereka tidaklah berhasil bahkan penutup para Nabi yang diutus untuk memperbaiki keadaan umat dan mewujudakan keadilan juga tidak berhasil dalam merealisasikan hal tersbut”. [diambil dari Khutbah Maulid Mahdi 1400 H. Lihat Kitab Nahju Khomainy halaman 46].
(Catatan: Bagaimana mungkin seorang alim ulama apalagi rujukan dakwah Islam mensifati Nabi bahwasanya beliau tidak menyampaikan risalah sebagaimana yang diiginkan Allah. Lalu sesuai keinginan siapa? Khomeny belum lagi menjawab pertanyaan ini. Sebelumnya ia menuduh Rasul itu takut dalam menyampikan risalah dan kali ini setelah datang keberanian dalam menyampaikan- dituduhnya lagi dengan kegagalan dalam menyampaikan risalah. Agama apa yang dianut orang ini? Keyakinan macam apa yang dipegangnya?! Dalam hal ini para ulama menyatakan bahwasanya perkataan seperti ini adalah perkataan orang zindiq dan tidaklah keluar dari lisan seorang muslim.)
Khomainy berkata: Sesungguhnya Nabi tidaklah sanggup membangun pemerintahan sebagaimana yang diinginkannya.
“ Dua hal yang membuatku sedih salah satunya yang lebih kusesalkan adalah sejak awal Islam dan Nubuwah tidak ada seruan untuk mewujudkan pemerintahan sebagaimana yang Islam inginkan. Walhasil pada zaman Rasul pemerintahan Islam belumlah mampu diwujudkan seabagaimna yang diinginkan oleh Nabi itu sendiri”. [Mukhtarat Min Ahadits Wa Khutabats al-Imam al-Khomainy, 2/520]
Khomainy memastikan keberadaan Nabi lain. Diantara wahyu yang diturunkan padanya adalah hadits tentang revolusinya.
Tujuh puluh lima hari pasca kematian anaknya dilalui Fathima al-Zahrah dalam kesedihan . Dalam pada itu Jibril mendatanginya dengan niatan berta’ziah sembari menyingkap kabar-kabar yang akan terjadi dimasa mendatang.  Dari riwayat ini jelas bahwasanya dalam rentang waktu tujuh puluh lima hari Jibril mendatangi Fathima berulangkali dan saya tidak percaya kejadian semacam ini bisa terjadi dalam kehidupan seseorang kecuali jika dia termasuk  dari kalangan Nabi. Dalam hal ini Imam Ali telah menuliskan apa-apa yang diwahyukan Jibril pada Fathima. Bisa jadi perkara tentang Iran termaktub didalamnya.[dari khutbahnya pada Hari Wanita di Iran 2/3/1986 H, disiarkan oleh Radio Tahran dan dinukil oleh al-Shuhuf al-‘Arabi]
(Catatan: Kami tidak beranggapan bahwa perkataanya tidak butuh lagi digaris bawahi. Segala puji bagi Allah yang menganugrahkan kepada kita akal dan pemahaman. Dan kita memohon perlindungan agar tidak dikembalikan dalam keadaan hina.)
Khomainy memastikan adanya mushaf baru selain al-Quran
“Sepeninggal Nabi Jibril datang pada Fathima dengan kabar tentang hal-hal yang ghaib dan amirul mukminin menuliskannya dalam mushaf. Itulah yang dikenal dengan sebutan mushhaf Fathima”.[Kasyu al-Asrar, 143]
Khomainy beranggapan bahwasanya Ali menanggung dosa yang diperbuat manusia
Sesungguhnya pemilik Wilayah menanggung dosa yang diperbuat oleh anak manusia….[Mashabihu al-Hidayah Ila al-Khilafah Wa al-Wilayah, al-Khomainy halaman 153]
Khomainy berkata: Sekiranya Ali datang sebelum Nabi untuk menegakkan syariah maka pasti dia termasuk dari kalangan para Nabi
Sekiranya Ali hidup sebelum masa Nabi untuk menegakkan syariah sebagaimana Nabi menegakkannya maka pastilah ia termasuk Nabi yang diutus. Hal itu dikarenakan ruh mereka berdua telah menyatu secara maknawi maupun zhohir.
Sesungguhnya Ali adalah segalanya bagi kita, kedudukanya menempati urutan teratas dalam seluruh sendi kehidupan manusia dan wajib bagi kita untuk mengikutinya
Kalian haruslah menundukkan sisi ruhani untuk melatih jasmani. Lihatlah Ali kemanapun kita pergi pasti akan kita dapati namanya. Dalam urusan fiqih dikenal dengan fiqih Ali. Dalam urusan zuhud ada zuhudnya Ali. Dalam hal tasawuf ada pula tasawuf Ali. Dalam hal ilmu pasti maka kita saksikan mereka mengulang-ulang menyebut nama Ali dan memulai karya mereka dengan menyebut nama Ali. Sesungguhnya ia telah menempati posisi teratas dalam seluruh sendi kehidupan manusia dan wajib bagi kita untuk mengikutinya. Dalam hal ibadah pun ibadahnya melampaui ibadahnya para abid. Dalam hal zuhud pun zuhudnya melampaui kezuhudan para ahli zuhud. Dalam hal jihad beliaupun melampaui seluruh mujahdin. Dalam hal kekuatan beliaulah yang paling kuat, seperti sebuah keajaiban beliau sanggup mengumpulkan semua kebaikan. [Mukhtarat Min Ahadits Wa Khutabats al-Imam al-Khomainy, 1/294]
(Catatan: Orang yang berkata demikian tidaklah beriman bahwasanya Muhammad Rasulullah walaupun mengaku-ngaku demikian. Adapun bagi orang-orang yang berakal maka kami katakan: masihkah kalian mencari kepastian perkataan tentang sesatnya orang terpercaya? Itulah yan diucapkan oleh Khomainy dan ditulis pula oleh tangannya.

(Ibnu Saibun/lppimakassar.com)
Sebelumnya kami turunkan bagian pertama dari tulisan tentang tokoh revolusi Iran pada link ini:http://www.lppimakassar.com/2013/01/sedikit-tentang-pahlawan-revolusi-iran.htmlberikutnya kami mengajak pembaca untuk mengetahui lebih banyak tentang tokoh kita yang satu ini.
Khomainy percaya bahwasanya para imam senantiasa memiliki pengetahuan abadi
“Para Nabi memiliki kedudukan ruhani yang begitu tinggi yang dikenal dengan ruh kudus. Denganya mereka senantiasa memiliki pengetahuan abadi yang meliputi segala sesuatu sampai benih kecil sekalipun”. [Al-‘Arbaun haditsan, Khomainy, halaman 597]
Khomainy berkata: tidak ada satupun bisa mencapai derajat keimaman tidak malaikat dan tidak pula Nabi. [Al-Hukumah al-Islamiyah, 93]
Termasuk pokok ajaran madzhab kami bahwasanya tak ada satupun yang dapat mencapai derajat keimaman, bahkan Nabi dan malaikat sekalipun.
Khomainy berkata: sesungguhnya para imam hadir ketika seorang anak manusia dalam keadaan sekarat.


Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol
“Kami percaya sebagaimana meraka juga percaya bahwasanya Amirul Mukminin hadir ketika anak manusia dalam keadaan sekarat baik itu mukmin, kafir atau munafiq”. [Al-Mi’ad fi nazhri al-Imam al-Khomaini, 177]
(Catatan: Terlepas dari penyimpangan dalam perkataan tersebut  mengapa Khomainy tidak mengatakan bahwa Rasulullah juga datang kepada orang yang sekarat? Apakah kedudukan ini hanya terkhusus bagi Ali saja?)
Khomainy berkata: Kitab-kitab amal kelak dihaturkan pada al-Mahdi.
“ Kita bisa menggambarkan secara nyata catatan amalan kita sebelum dihaturkan pada Rabb dan sebelum dihaturkan pada Mahdi. Sesungguhnya catatan amalan kita dihaturkan padanya dua kali dalam sepekan berdasarkan riwayat”. [Al-Mi’ad fi Nazhri al-Khomainy, 368]
Khomainy menganggap bahwasanya hari raya milad al-Mahdi itu lebih mulia dari milad Rasulullah
Milad Mahdi adalah sesuatu yang besar bagi kaum muslimin bahkan lebih besar ketimbang milad Nabi Muhammad. [Wasiatu al-Khomainy, 47]
(Catatan: Demikian kedudukan Nabi di hati seorang penggerak bangsa, pencetus revolusi mendunia yang tak ubahnya seperti orang-orang yang congkak lagi zhalim. Hal yang ingin kami tegaskan dini adalah bahwasanya Khomainy tidaklah dikhianati oleh ungkapannya sendiri. Melainkan ini adalah hukuman baginya yang dengannya ia berbangga-bangga dan memperdengarkannya kepada para petinggi. Dan dia orang yang paling mengetahui bahwasanya perkataanya berarti Mahdi itu lebih afdhal ketimbang Nabi.)
Khomainy mengkafirkan Abu Bakar dan Umar serta melabeli mereka berdua bodoh, dusta dan zindiq.
Dua syeikh ini, penyimpangan keduanya terhadap al-Quran, hal-hal yang keduanya halal atau haramkan, dan kezhaliman yang senantiasa mereka tekuni bukanlah urusan kami. Namun dalam hal ini kami hanya ingin menunjukkan tentang kebodohan keduanya terhadap hukum-hukum Allah dan agama. Orang bodoh, pendusta, dan zholim semacam keduanya tidak pantas untuk untuk menempati kedudukan imamah dan waliyu al-amr. [Kasyfu al-Asrar, 107-108]
Amal Umar bersumer dari kekufuran, kezindiqkan dan penyimpangan terhadap ayat-ayat al-Quran. [Kasyfu al-Asrar, 116]
(Catatan: Apalagi yang ditinggalakan oleh Khomainy bagi orang rendahan Syiah jika pencetus revolusinya saja mencela shahabat dengan seburuk-buruk akhlaq. Lalu bagaimana dengan pengikutnya? Bagi mereka yang berusaha mempertemukan antara sunni Syiah lihatlah sikap mereka terhadap orang terbaik dari kalangan shahabat. Sangat lah tidak mungkin orang yang berkata demikian tentang para shahabat menjadi penyeru hari kesucian dunia dan pekan persatuan dunia, tunggu dulu wahai penyeru taqrib!)
Khomainy  berkata: kaum muslimin termasuk orang-orang yang diharamkan dari keutamaan Allah dan rahmat-Nya. Sebab itu hanya untuk kaum Syiah dan tidak selainnya.
Khomainy menukil ayat yang artinya: {… maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.} [al-Furqon: 70]. imam Ali berkata : Pada hari kiamat nanti orang berdosa dari kalangan mukminin digiring sampai ke tempat perhitungan. Hanya Allahlah yang mengetahui tentang perhitungannya dan tidak ada seorangpun dari anak Adam yang mengetahuinya. Ditampakkan seluruh dosanya hingga ia pun mengakuinya lalu Allah berkata pada malikat pencatat: gantilah dosanya dengan kebaikan lalu umumkan pada manusia. Manusia berkata: hamba ini tidak punya dosa satupun. Kemudian ia pun diperintahkan untuk masuk syurga. Inilah penafsiran dari ayat ini. Dan ini hanya dikhususkan untuk pendosa dari kalangan Syiah. Dalam hal ini Khomainy berkomentar. “dan sudah diketahui bersama bahwasanya pengampunan ini terkhusus bagi Syiah Ahli Bait dan tidak bagi yang lain. Karena iman tidak dicapai kecuali dengan wasilah imam Ali atau pewarisnya yang suci dari dosa. Bahkan keimanan pada Allah dan Rasulnya tidaklah diterima tanpa keimanan pada wilayah sebagaimana yang kami sebutkan pada pasal berikut. [Al-‘Arbaun Haditsan, 511]
Khomainy berkata: Penduduk Iran lebih afdhal dari penduduk Hijaz pada masa Rasulullah
Aku berani menyatakan bahwasanya penduduk iran lebih afdhall dari penduduk Hijaz pada zaman Rasulullah. Dan lebih baik dari penduduk Kufah pada zaman Husain bin Ali. Sebab mereka bemuamalah dengan cara yang buruk pada Husain serta banyak membangkang. Sikap  imam yang mengeluhkan tentang hal tersebut  dapat kita dapati dalam kitab sejarah. Kaum muslimin Iraq dan Kuffah telah melakukan kejahatan terhadap Husain bin Ali entah dengan lari dari peperangan atau sekedar duduk berpangku tangan hingga terjadilah musibah yang tercatat dalam sejarah Islam
(Catatan: Sekiranya Khomainy masih hidup dan menyaksikan aksi demo jutaan orang. Generasi yang tumbuh dan belajar revolusi darinya justru merekalah yang membakar dan menginjak-injak fotonya. Masikah dia akan menyanjung generasi ini atau malah melabeli mereka dengan label nawashib, para pengikut buta lagi berwajah masam).
Khomainy membolehkan anal sex dan mencumbu paha bayi.
Masalah ke 11- pendapat yang masyhur dan yang paling kuat tentang bolehnya mensetubuhi istri dari duburnya meskipun sangat dibenci dan yang lebih selamat adalah meninggalkannya terlebih lagi jika sang istri tidak menyukainya.
Masalah 12- tidak boleh mensetubuhi wanita kecuali jika telah genap sembilan tahun. Entah itu dilakukan dalam pernikahan yang  statusnya selamanya atau sementara. Adapun mencari kepuasan seks dengan cara lain semisal menyentuh dengan syahwat, memeluk dan menikmati paha maka itu tidaklah masalah bahkan jika dilakukan terhadap bayi sekalipun. [Tahriru al-Washilah, 221]
(Catatan: Peyimpangan orang ini seolah tak ada batasnya. Dalam hal akidah penuh dengan khurafat penuh kedengkian. Dalam hal fikih nyeleneh bin bermudah-mudah. Tidak diragukan lagi bahwasanya ialah sang pemimpin revolusi sesat.)
Khomainy berfatwa bolehnya mengambil harta orang Sunni dan dan larangan untuk mensholati jenazahnya
“… agar tidak terjadi perampasan terhadap harta kaum muslimin, kafir dzimmi, dan mereka-mereka yang dalam perjanjian atau yang semisalnya dari kalangan yang diharamkan hartanya. Dan pendapat yang terkuat adalah menyamakan hukum nasibi dengan kafir yang memerangi Islam dalam hal ghanimah dan juga khumus. Bahkan jelas sekali bolehnya mengambil harta mereka dimanapun berada dan dengan cara apapun.” [Tahriru al-Washilah, 251]
“Dilarang mensholati jenazah kafir kafir apapun itu termasuk  murtad. Dan juga kafir secara hukum seperti orang yang menganut paham nawashib dan khawarij”. [Tahriru al-Washilah, 1/80]
“Nawashib dan khawarij smoga Allah melaknat keduanya. Mereka itu najis selamanya”. [Tahriru al-Washilah, 1/118]
(Catatan: Tidak perlu ditutupi lagi bahwasanya yang dimaksud dengan nawashib menurut ahli taqrib adalah mereka Ahlu Sunnah, Sahabat, para imam yang empat, seluruh ulama dan kaum muslimin. Dan yang perlu diperhatikan disini adalah pembedaan antara nawashib dan khawarij yang menunjukkan bahwasanya itu adalah dua firqah yang bebeda. Maksudnya ialah mereka yang bukan khawarij adalah nawashib dan  yang bukan merupakan khawarij tidak lain adalah ahlu sunnah, maka ambilah ibrah wahai orang yang berakal.)
Khomainy berkata bersedekap membatalkan sholat kecuali dalam keadaan taqiyyah
Yang kedua dari pembatal-pembatal sholat: takfir, yakni meletakkan salah satu tangan diatas tangan lainnya sebagaimana yang dilakukan oleh selain kita. Bahkan hukumnya termasuk membatalkan sholat secara sengaja dan bukan karena lupa. Untuk lebih hati-hatinya sebaiknya diulangi. Namun tidak mengapa sekiranya dilakukan dalam keadaan tiqiyyah. [Tahriru al-Washilah, 166]
Pada tahun 1408 H Khomainy menganjurkan kepada pemimpin Iran untuk membunuh jamaah haji.
Pada tahun 1408 H terjadi musibah besar yang mengguncangkan seluruh negri. Pemeran utama dalam kejadian itu adalah Khomainy yang bersih kukuh tetap melaksanakannya meskipun peringatan telah dilayangkan kepadanya. Hal ini disaksikan oleh Pengawal Presiden Iran yang kala itu besembunyi dalam pakaian haji dan menghalalkan tanah suci yang menyebabkan ratusan jamaah tewas dan ribuan terluka. Musibah ini dimulai dengan demo yang aman pada awalnya lalu kemudian berubah menjadi aksi anarkis. Nampak para pendemo membawa pisau, parang dan senjata tajam lainnya serta bensin. Dan nampak foto Khomainy diangkat-angkat. Sang Pengobar api fitnah.
(Catatan: Barang siapa yang mengetahui hakikat aqidah Khomainy dan seberapa besar kedengkiannya terhadap tanah suci kaum muslimin, niscaya tidak akan heran dengan kejahatannya yang bertubi-tubi. Khomainy adalah rujukan resmi dan wali fiqh dari sebuah negri yang merasa mulia dengan hukum mereka dan apa yang Khomainy lakukan dalam hal ini adalah persis seperti yang dilakukan teroris Habasyi. Dengan ini lengkaplah sudah. Selain Khomainy seorang wali fiqh dia juga seorang teroris bodoh.)
Khomainy rujukan taqlid dalam busana diktator
Segala jenis tindak pembunuhan dan pengancaman terhadap penentangnya telah dilakoni oleh Khomainy dengan dalih bahwasanya Allah menaungi negrinya.Pemerintah Iran pun telah berupaya mengadakan pengadilan besar guna menyelidiki dan menempatkan kalangan Ahlu Sunnah dalam posisi tertekan, terutama para pemimpin dengan tidak mengizinkan menjalani aktivitas dakwah dan politik. Bahkan kedengkian sampai pada pelarangan membangun masjid bagi Ahlu Sunnah di Tahran. Memenjarakan Syeikh Ahmad hingga wafat di penjara. Ketika Ahlu Sunnah dalam keadaaan penuh tekanan justu mereka mengadakan kerjasma dengan Yahudi dan Nashrani. Tidak ada pelarangan bagi mereka untuk membangun sinagoge dan gereja. Inilah kenyataan yang ada dalam negri iran. Tapi di luar tampak seolah mereka menyiarkan pertolongan terhadap kaum muslimin. Disamping itu Iran juga menandatangani perjanjian senjata dengan Amerika dan Israel. Hubungan kerjasama tampak semakin erat terutama ketika kasus Dosa Iran.  Tapi ternyata mereka menyerah dihadapan tentara Iraq yang datang segala penjuru. Nyata bahwasanya celoteh Husain dan istighatsah kepada al-Mahdi tidak membawa manfaat apa-apa buat mereka.

Ingin tahu lebih banyak tentang hakikat Khomainy kunjungi situs imam Khomainy di http: //www.khomainy.com
(Ibnu Saibun/lppimakassar.com)

Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwa mencela sahabat adalah haram, karena menyambut dan mengamalkan perintah Rasulullah saw, “Jangan kalian cela sahabatku” (HR. Bukhari Muslim). Mereka adalah wasiat dari Nabi kita, “Saya wasiatkan kalian tentang sahabatku” (HR. Tirmidzi). Beliau juga bersabda, “Jagalah aku dengan menjaga sahabatbu” (HR. Ibnu Majah)
Mereka adalah sebaik-baik manusia setelah Rasulullah saw, beliau ditanya “Siapakah manusia terbaik?”, beliau menjawab, “Saya dan orang-orang yang bersamaku” (HR. Ahmad)
Kita tidak diperintahkan oleh Allah untuk melaknat, mencaci dan memaki mereka. Bahkan Allah memerintahkan kita untuk memohonkan ampun kepada mereka, Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, ampunkanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian/ hasad terhadap orang yang beriman. Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapengasih Mahapenyayang’.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Aisyah radhiyallahu anha berkata, “Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun untuk para sahabat, namun justru mereka mencelanya.” (Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah, 6/405)
Dikisahkan bahwa seseorang berkata jelek tentang Ustman, setelah mengetahui ini, Ibnu Umar memanggilnya, beliau membacakan padanya ayat (yang artinya), “Bagi orang-orang faqir muhajirin yang diusir dari rumah dan harta mereka…..” (Al-Hasyr: 8), “Apakah kamu termasuk golongan ini?”, orang itu menjawab, “Tidak”, kemudian Ibnu Umar melanjutkan bacaannya, “Dan bagi orang-orang yang memenuhi rumah mereka dengan keimanan sebelum itu….” (Al-Hasyr: 9), beliau bertanya lagi, “Apakah kamu termasuk dari mereka-mereka itu?” orang itu menjawab, “Tidak.” Kemudian Ibnu Umar membaca ayat yang terakhir, “Dan orang-orang yang datang setelah mereka berkata, ‘Wahai Tuhan kami, ampunkanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam beriman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian/ hasad terhadap orang yang beriman. Rabb kami, sesungguhnya Engkau Mahapengasih Mahapenyayang’.” Kemudian Ibnu Umar bertanya, “Apakah kamu termasuk dari orang-orang ini?” orang tersebut menjawab, “Saya berharap masuk pada golongan tersebut”, Ibnu Umar menjawab, “Tidak, Demi Allah! Tidak mungkin ada orang yang masuk dalam golongan ini kemudian dia mencela mereka dan ada dengki dalam hatinya” (An-Nahyu An Sabb Al-Ashhab, 37)
Ibnu Abbas berkata, “Janganlah kalian cela para sahabat Nabi Muhammad saw, karena sesungguhnya Allah telah memerintahkan kita untuk memohonkan ampun untuk mereka padahal Allah tahu bahwa para sahabat itu akan saling berperang setelah itu.” (Syarh I’tiqad Ahlussunnah wal Jama’ah, 7/1318)
Ibnu Umar berkata, “Janganlah kalian cela sahabat Muhammad saw. karena sesungguhnya kedudukan salah seorang mereka lebih baik dari amal kalian seumur hidup” (Ibid, 7/1323)
Dari Abu Urwah bekata, kami pernah di sisi Imam Malik rahimahullah, disebutkan kepada beliau beberapa orang yang memaki para sahabat Rasulullah saw, Imam Malik pun membaca ayat, “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya….” Sampai pada bacaan, “(Para Sahabat itu) menyenangkan hati para penanamnya agar kaum kafir itu dibuat marah oleh mereka” (Al-Fath: 29), kemudian Imam Malik berkata, “Siapa yang dalam hatinya ada kebencian terhadap salah seorang sahabat Rasulullah saw maka ia telah dikenai oleh ayat ini” (Ibid, hal 69)
Imam Al-Barbahari berkata, “Ketahuilah, siapa saja yang berkata buruk terhadap salah satu sahabat Muhammad saw, sesungguhnya yang ia mau cela adalah Nabi Muhammad saw, ia telah menyakitinya di kuburnya” (Syarh Sunnah, hal 123)
Imam Ahmad berkata, “Siapa yang mencela (sahabat Nabi) saya takutkan dia sudah kafir seperti orang-orang Syiah Rafidhah, barang siapa yang mencela para sahabat Nabi saw dikhawatirkan ia sudah keluar dari agama ini (murtad)” (Ibid, 7/1326)
Beberapa Hukuman yang pantas bagi pencela Sahabat
Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu anhu bahwasanya ia mencambuk orang yang mencela Ummu Salamah sebanyak 30 kali. Anaknnya yang bernama Ubaidullah mencela Miqdad, Umar pun sangat berkeinginan memotong lidah anaknya tersebut. Para sahabat menahannya, beliau pun berkata kepada mereka, “Biarkanlah saya memotong lidah anakku, sehingga tidak ada lagi seorang pun yang lancang dan berani mencela sahabat Muhammad saw setelah aku meninggal”
Ketika sampai kabar kepada Ali bahwa Abdullah bin Saba bercerita buruk tentang Abu Bakar dan Umar, ia pun memanggilnya dan di tangannya ada pedang. Beliau sangat inginmembunuhnya. Kemudian ia berkata, “Jangan kamu tinggal di negeri yang aku berada di dalamnya” kemudian ia dibuang ke Syam.
Umar bin Abdul Aziz mencambuk orang yang mencela Utsman bin Affan sebanyak 30 kali. Beliau juga perlakukan sama terhadap orang yang mencela Mu’awiyah.
Ashim Al-Ahwal, termasuk di antara khalifah Bani Abbasiyah, beliau mencambuk orang yang mencela Utsman sebanyak 70 kali.
Adapun Imam Ahmad bin Hambal berpendapat pelakunya dicambuk dan beliau berkata, “Saya tidak melihatnya berada dalam Islam”
Ismail bin Ishak ditanya tentang hukuman orang yang mencela Aisyah radhiyallahu anha,maka beliau berfatwa agar pelakunya dibunuh! (Semua data di atas –mulai dari sub judul- diambil dari Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal jamaah, 7/1336-1337)
Dari Sa’id bin Abdurrahman bin Abza, ia berkata: Saya bertanya kepada ayahku (Abdurrahman bin Abza), bagaimana pendapatmu tentang orang yang mencela Abu Bakar? Ia menjawab, “Dibunuh!” saya kembali bertanya, bagaimana dengan yang mencela Umar? Beliau menjawab, “Dibunuh (juga)!” (An-Nahyu ‘An Sabb Al-Ashaab, hal 68)
Syaikhul Islam, Ibnu Taimiyah berkata, “Sesungguhnya siapa saja yang mencela sahabat Rasulullah saw maka dia wajib dita’zir (diasingkan) dan dita’dib atau dibunuh” (Ash-Sharim Al-Maslul, 1/443)
Bahkan menurut riwayat Abul Qasim Al-Baghwi, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhuberkata, “Akan keluar di akhir zaman sebuah kaum yang disebut Rafidhah, mereka dikenal dengan sebutan itu, mereka mengaku ikut terhadap kita, padahal mereka bukan pengikut kami. Tandanya adalah mereka mencela Abu Bakar dan Umar. Di mana saja kalian temui,bunuhlah mereka! Karena mereka itu musyrik” 
Inilah beberapa hukuman yang pantas bagi pencela sahabat Nabi dan berlaku di wilayah kehakiman Islam di bawah naungan Khilafah/Daulah Islamiyah.

Bahan Bacaan:
An-Nahyu ‘An Sabb Al-Ashaab wa maa fihi min Al-Itsmi Wal’ Iqab, Karya Dhiya’uddin Al-Maqdisi
Syarh Ushul I’tiqad Ahlussunnah wal Jamaah, Karya Al-Lalika’i
Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatim Ar-Rasul, karya Ibnu Taimiyah
Dar’u al-Ghawiyah ‘an al-Waqi’ah fi Khal al-Mukminin Mu’awiyah karya Abu Muhammad Zakariya bin Ali al-Qahthani.

(Muh. Istiqamah/lppimakassar.com)

JAKARTA (voa-islam.com) - Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husain Syihab Asy-Syafi’i kembali mempertegas bahwa FPI anti aliran sesat Syiah dan menyatakan bahwa semua Syiah adalah sesat.
Seperti diketahui, FPI membagi Syiah menjadi tiga bagian; pertama, Syiah Ghulat yaitu Syiah yang menuhankan Ali ibn Abi Thalib atau meyakini Al-Qur'an sudah di-tahrif (dirubah/ditambah/dikurangi) dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari ushuluddin yang disepakati semua madzhab Islam. Syiah golongan ini adalah kafir dan wajib diperangi.
Kedua, Syiah Rafidhah yaitu Syiah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar dan Umar atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti 'Aisyah dan Hafshah. Syiah golongan ini ulama sepakat bahwa mereka adalah ahlul bida’ wal ahwa (ahli bid’ah) mereka sesat menyesatkan dan tetap harus diperangi.
Ketiga, Syiah Mu'tadilah yaitu Syiah yang tidak menuhankan Ali dan tidak menghalalkan mencaci maki sahabat, seperti yang dilakukan oleh Syiah Zaidiyah. Mereka diperangi pemikirannya melalui dialog.
Pembagian ini menurut Habib Rizieq diperlukan agar menjadi kejelasan bagi kaum Muslimin pada umumnya dan khususnya kepada anggota FPI bagaimana seharusnya menyikapi aliran sesat Syiah.
“FPI tidak sendirian dan FPI bukan pemula (dalam membagi Syiah, red.). Pembagian ini bagi Ormas FPI sangat diperlukan supaya sikap FPI jelas ke bawah dalam memandang Syiah; mana Syiah yang mesti diperangi seperti Ghulat dan Rafidhah serta mana Syiah yang harus diselesaikan dengan dialog Al-hujjah bil hujjah, Al-Aqwal bil Aqwal,” kata Habib Rizieq di Markas Syariah FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Selasa (11/6/2013).
Habib Rizieq pun menyampaikan bahwa pembagian Syiah tersebut bukan untuk dibenarkan, bahkan ia mempertegas semua Syiah adalah sesat meski Syiah Mu’tadilah sekalipun.
“intinya FPI bukan Syiah dan FPI tetap anti Syiah. Syiah yang manapun apakah itu Ghulat, Rafidhah atau Mu’tadilah semua pendapatnya tidak kami terima, hanya kami membedakan mereka di dalam perlakuan bukan untuk dibenarkan. Nah ini yang perlu saya klarifikasi, jadi jangan ada yang menganggap jika FPI membagi Syiah menjadi tiga lalu yang ketiga dibenarkan, terus yang ketiga ini dibela oleh FPI. FPI bukan pembela Syiah!” tegasnya.
Ia juga sepakat bahwa penyebaran aliran sesat Syiah di Indonesia harus dihalangi, sebab Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim Ahlus Sunnah wal Jamaah.
“Kita sepakat bahwa penyebaran Syiah di Indonesia harus diantisipasi, harus kita halangi, tidak boleh yang manapun kelompoknya, termasuk yang mu’tadil sekalipun tidak boleh mereka sebarluaskan aqidah mereka di Negara Republik Indonesia yang notabene adalah negara bagi Ahlus Sunnah wal Jamaah,” tandasnya. [Ahmed Widad]
Baca artikel  selengkapnya di SYIAH ADALAH  tafhadol
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2013/06/17/25292/habib-rizieq-fpi-anti-syiah-penyebarannya-di-indonesia-harus-dicegah/;#sthash.Tn4vcagO.dpuf
Back To Top